Rabu, 12 Februari 2014

Rumah Diatas Kuburan Prapatan

Rumah Diatas Kuburan




Sapar duduk telanjang dada di depan musholla Jabal Rahmah, di rt 38 kelurahan prapatan awal januari lalu. Sebatang rokok kretek terselip dijarinya, ia menghisapnya dalam dan menghembuskan asap keluar.

Saya duduk disebelahnya, tangannya yang kekar menggambarkan betapa keras kehidupan yang dijalaninya. Sapar, lelaki kelahiran Balikpapan 17 Januari 1960 termasuk warga lama yang tinggal di Kelurahan Prapatan. Ia lahir dan menjadi dewasa hingga berkeluarga serta memomong cucu disana.

"Wajah Prapatan sudah berubah total," kata Sapar. Pikirannya kemudian kembali ke beberapa puluh tahun silam, ia menceritakan bahwa rumah-rumah yang berjejal di kawasan prapatan dibangun diatas tulang belulang orang Cina dan Belanda. khususnya dari depan Gereja Theresia hingga di rt 38 daerah paling puncak.

Seingat Sapar, sebelum menjadi pemukiman seperti sekarang, kawasan rt 38 dulunya merupakan areal pekuburan warga keturunan China, jumlahnya ribuan dan bangunannya begitu megah. sementara di rt 25, merupakan areal pekuburan tentara Belanda. 

Hanya ada tiga jenis tumbuhan yang hidup di areal pekuburan tersebut, yaitu pohon jambu mente, bunga kemboja dan alang-alang yang tingginya bisa mencapai dua kali tinggi manusia. 

Ketiak tahun 70-an ayah Sapar dan pamannya bertugas sebagai juru kunci makam, mereka juga tukang gali kubur bila ada keluarga keturunan Cina meninggal dunia. "Upahnya lumayan buat makan, satu kali gali bisa 50 ribu zaman dulu," kenang Sapar.

Ayah Sapar sendiri pernah pernah bekerja di perusahaan minyak Permina (Sekarang Pertamina) UP V Balikpapan, sebelum berhenti dan memilih kerja kepada swasta dan akhirnya bekerja kepada Jepang untuk membuat sumur minyak di daerah kelurahan samboja yang kini masuk wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Nama Samboja sendiri, kata Sapar, aslinya adalah San Bo Jai bahasa yang digunakan tentara Jepang. Nama itu muncul karena ketika itu jepang tidak memberi makan para pekerjanya termasuk ayah Sapar, sehingga disebut San Bo Jai yang artinya tidak makan tiga hari. Lambat laun, istilah tersebut menjadi nama daerah dan sumur minyak yang dibuat hingga kini masih beroperasi.

Sapar mengaku, rumah yang ditempatinya kini, bersama tiga anaknya merupakan rumah pertama di Rt 38, dulu bentuknya hanya gubuk kayu, ia dibuat hanyalah untuk tempat peristirahatan.

Namun ketika tahun 1983, perumahan mulai muncul seiring besarnya arus transmigrasi warga dari pulau Jawa. Mereka mulai melakukan pembangunan rumah di areal kuburan Belanda dan dengan cepat menyebar ke areal kuburan cina. Sapar mengaku tidak tahu pasti kemana tulang belulang tentara belanda itu dipindahkan.

Menurut Sapar, sejak pembangunan rumah kian marak, banyak warga keturunan cina yang memilih membongkar dan memindahkan kuburan leluhur mereka ke daerah Kilo Meter 15 Kecamatan Balikpapan Utara. Sapar mengaku ketika usianya baru sekitar 19 tahun. ia memamfaatkan momentum itu untuk bekerja sebagai pembongkar kuburan, satu kuburan di upah sekitar 50 hingga 100 ribu rupiah.

Tidak jelas bagaimana warga memperoleh tanah di areal pekuburan tersebut, yang Sapar tahu, lambat tapi pasti areal pekuburan itu disulap menjadi rumah sedikit demi sedikit. 

Saya mengunjungi daerah Prapatan dan berkeliling, saya tidak lagi melihat ejak atau sisa pekuburan disana, semua sudah “disulap” menjadi pemukiman padat pemduduk. Hanya ada empat kuburan Cina yang masih tersisa, kuburan itu tidak dibongkar karena para keluarganya masih rutin melakukan sembahyang sekali atau dua kali setahun. 

Untuk menjamin keamanan leluhurnya, biasanya mereka memberi sedekah uang kepada warga sekitar dengan meminta agar kuburan leleuhurnya tidak dibongkar. Sementara untuk kuburan Belanda tak satu pun tersisa, diatasnya telah beridi Puskemas, Musholla dan rumah penduduk, padahal kono, disana terkubur beberapa Jendral yang ikut menjajah Indonesia. 

Sumber : Oleh: Musthofa Bisri

Sejarah Nama Batakan

Batakan ini berada di wilayah timur Balikpapan, setelah Sepinggan. Sebagian wilayahnya masuk dalam daerah administrasi kelurahan Manggar. Batakan tidak ada hubungannya dengan Batak atau orang-orang Batak yang tinggal di situ. Dalam peta Balikpapan terbitan Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM) tahun 1939, tidak ada daerah bernama Batakan. Jika dilihat kondisi sosial dan geografisnya, Batakan ini dulunya dikenal sebagai daerah pertanian dan industri batu bata. jadi daerah ini terkenal dengan industri batu bata. mayoritas yang membuat batu bata ini adalah perantauan dari Jawa dan Madura. dulu industri batu bata di sini sangat terkenal, berbagai pembangunan gedung atau rumah-rumah pasti membeli batu bata dari sini. biasanya ketika produksi batu bata dimulai, yakni ketika membakar batu bara, daerah ini sering diliputi asap tebal hasil pembakaran. nah penduduk Balikpapan yg tidak mengetahui daerah ini ada industri batu bara, terheran-heran ketika daerah ini diselimuti asap tebal. nah penduduk tersebut coba bertanya, kebakaran di mana kok banyak asapnya tebal? warga setempat menjawab ini dari pembakaran bata. Oh, daerah pembakaran bata, lanjut penduduk tersebut. lama kelamaan bahasa tutur warga pun berkembang... ... jadi kalau ada yg menanyakan ini asal asap dari mana, orang-orang setempat menjawab, oh itu dari bata'an. maksudnya ya pembakaran bata. karena akrab dengan istilah bata'an. maka sesuai perkembangan penuturan warga setempat pun jadi batakan. akhirnya wilayah ini dikenal sebagai Batakan. industri pembuat batu bata juga masih bisa ditemukan, walaupun mereka ga di sekitar pantai lg. di wilayah Batakan Dalam atau belakang perumahan Palm Hills juga masih ada orang yang membuat batu-bata. bahkan sampai ke Sepinggan dalam.

Sumber : Thomas wirya

Minyak Balikpapan Yang Mendunia

Sejarah Balikpapan “Minyak Balikpapan Yang Mendunia”

Tanggal 10 Februari 2014 Usia Kota Balikpapan berusia 117 dan kota ini salah satu kota tertua di Indonesia walapun tak setua kota Bandung, Jakarta atau Semarang dll, Kota ini juga adik dari kota kota tersebut
Minyak tidak bisa dipisahkan dengan Balikpapan. Minyak Bumi Balikpapan memiliki ikatan sejarah dengan sumur minyak Mathilda, satu dari sembilan sumur produktif yang dibor di kaki Gunung Komendur, sisi timur Teluk Balikpapan.
Keberadaan kota yang membentang sepanjang lebih dari 25 kilometer dari ujung Pulau Tukung di ujung pesisir barat hingga Gunung Tembak dan Kelurahan Aji Raden di pesisir timur itu terus berkembang ke arah barat dan utara. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 500.000 jiwa, Balikpapan kini menjadi kota minyak yang patut diperhitungkan.
Penentuan hari jadi Kota Balikpapan terkait dengan pengeboran pertama sumur minyak di wilayah ini, 10 Februari 1897, atau terpaut sekitar 38 tahun setelah pengeboran minyak bumi komersial pertama di dunia ketika Edwin L Drake dengan perusahaannya Senca Oil Company menemukan minyak di Titusville Amerika. Hasil seminar 1 Desember 1984 menghasilkan lima pilihan untuk menentukan hari jadi kota ini. Pilihan akhir jatuh pada peristiwa pengeboran pertama sumur minyak di lereng Gunung Tukung itu dan kemudian diperkuat dengan SK Wali Kota Balikpapan No 6 tanggal 25 November 1985.
Sumur Mathilda yang dimonumenkan menjadi hari lahirnya Kota Balikpapan itu mencatat produksi minyak yang cukup besar. Menurut Kepala Humas Pertamina Unit Produksi V Balikpapan WF Welan, sebelum ditinggalkan BPM (Bataafshe Petroleum Maatschappij), produksi sumur tersebut secara akumulatif mencapai 620.895 barrel.
Balikpapan dikontrak Belanda pada 1863 dari Kesultanan Kutai dengan Besluit 29 Agustus 1888 yang diperkuat Besluit No 4 tanggal 30 Juni 1891. Kemudian pemerintah Hindia Belanda menunjuk JH Menten dan Firma Samuel & Co sebagai pemenang hak konsesi.
Adams dari Firma Samuel & Co di London yang melakukan penelitian di bagian daratan kaki Gunung Komendur, wilayah teluk hingga Pulau Tukung. Ia menemukan cadangan minyak yang sangat besar.
Penemuan ini mendorong pengeboran pertama tanggal 10 Februari 1897, dan menemukan minyak yang cukup komersial hanya pada kedalaman 220 meter. Oleh JH Menten, sumur pengeboran perdana itu diberi nama Mathilda, nama anak Menten yang ada di negeri Belanda.


@Bppn_Doeloe
#CeritaBppnDoeloe
#FotoBppnDoeloe
#KalianHarusTahu
Panggil saya : Doel

Jumat, 27 September 2013

Beberapa cagar budaya kota Balikpapan 

- Tugu Australia ( lapangan merdeka)
- Menara Mercusuar komendur
- Meriam jepang (gunung bugis)
- Tugu jepang (manggar)
- Makam kerajaan kutai (gn.komendur)
- sumur mathilda (kilang minyak)
- Bangkai Bangkai tank (gunung pasir)
- Tugu Kilang (karang anyar)
- Tugu perjuangan 13 november (karang anyar)
- Monumen Perjuangan (klandasan)
- Tugu tangan (gunung pasir)
- tugu bundaran rapak (rapak)

Minggu, 15 September 2013

Pembantaian Belanda oleh Jepang di Klandasan

Kota Balikpapan memang menyimpan sejarah kelam yang nyaris tidak pernah tercatat dalam lembar sejarah Indonesia, mungkin karena korbannya bukan orang Indonesia.

Sejarah pembantaian Jepang yang mengeksekusi sedikitnya 78 orang Belanda di tempat yang bernama Kelandasan (Klandasan), tercatat sebagai salah satu sejarah kelam yang pernah terjadi di Balikpapan. Sebuah kekejaman perang yang terkait dengan perebutan ladang minyak oleh Jepang dari tangan Belanda.

Sebelum menyerbu Balikpapan, Jepang lebih dulu menggempur Tarakan yang mereka bom hampir setiap hari, sehingga kapal-kapal KPM (Kominklijke Paketvaart Maatschappij), dimulai dengan kapal KPM Lengkuas terkena torpedo dan tenggelam. Pada 10 Januari 1942 armada kapal perang dalam jumlah besar, armada gugus Timur Angkatan Laut kekaisaran Jepang yang dikomandani Laksamana Madya Takahashi di beberapa lepas pantai Tarakan. Gugus ini menyerahkan pasukan dengan 6 kapal penjelajah cepat, beberapa buah torpedo, 22 buah kapal pendarat dan beberapa buah kapal perbekalan.


Pesawat pemburu Brewster Belanda yang cuma empat buah di Tarakan tidak mampu menghadapi kegesitan pesawat Jepang. Pulau Tarakan yang kaya minyak ini hanya memiliki satu batalyon infantry KNIL yang sudah patah semangat, satu Detasemen Kavaleri dan 7 buah kendaraan lapis baja dengan hanya beberapa puluh milisi wajib militer ahli bahan peledak yang dimobilisasi dari buruh BPM.
Panglima Angkatan Laut Belanda Laksamana Heelfrich tidak mampu menahan serbuan Jepang. Tanggal 11 Januari 1942 Tarakan direbut Jepang dari genggaman kekuasan Belanda. Tetapi setelah Jepang merebut Kota Tarakan, mereka gondok bukan kepalang melihat kenyataan ladang minyak Tarakan sudah luluh lantak dihancurkan oleh Belanda sebelum Jepang datang. Padahal berikutnya Jepang berencana merebut Kota Balikpapan. Jangan jangan ladang minyak Balikpapan juga akan dibumihanguskan oleh Belanda. Maka, dua orang kapten Belanda yang tertangkap di Tarakan, Kapten GL Reinderhoff dan Kapten AH Colijn dikirim ke Balikpapan pada 20 Januari 1942 dengan membawa surat ultimaltum yang bunyinya: “Jika Belanda berani merusak fasilitas ladang minyak Balikpapan dan sekitarnya, maka semua komandan, prajurit prajurit dan yang terkait akan dibunuh tanpa terkecuali…”

Begitu menerima surat ancaman, wajah komandan KNIL Letkol C van Den Hoogenband memerah, rahangnya bergeletuk menahan marah. Sekujur tubuh lelaki bermata biru itu bergetar hebat. Ia tidak bisa menerima ancaman itu. Sang komandan KNIL itu malah memerintahkan untuk membakar seluruh fasilitas ladang minyak Balikpapan.

Dan ketika akhirnya pasukan Jepang dibawah komandan Mayjen Shizuo Sakaguchi benar-benar menyerang dan merebut Balikpapan pada 23 Januari 1942, tiada ampun lagi semua bangsa Belanda yang tertangkap lalu dikumpulkan dan ditahan dan diperlakukan dengan semena mena. Sebagian besar lainnya memang sudah diungsikan ke luar daerah oleh Letkol Hoogenband. Bahkan Kapten Reinderhoff dan Kapten Colijn malah disuruh ke Jawa, alih-alih kembali ke Tarakan untuk memenuhi janjinya melapor kepada Jepang yang menangkapnya.

Hingga akhirnya tibalah pada suatu pagi di tepian pantai, diperkirakan tanggal 24 Februari 1942, Jepang menggiring tangkapan Belandanya yang antara lain terdiri dari pegawai sipil, petugas medis, pendeta, pasien rumah sakit, inspektur polisi, tentara dan sekelompok tahanan perang lainnya,total jenderal ada sekitar 78 orang.


Mereka digiring dalam keadaan terikat di bawah kawalan ketat tentara Jepang dengan menodongkan senjatanya. Tahanan-tahanan itu digiring bagaikan sekelompok domba yang tanpa daya. Kemudian satu demi satu tawanan itu didor tanpa perlawanan, tubuh-tubuh itu pun tumbang tertembus peluru. Prosesi pembantaian itupun selesai dalam tempo sekitar dua jam. Pada hari pembantaian itu, orang orang kampung dikumpulkan dan dipaksa menyaksikan eksekusi biadab itu!

sejarah Kota Balikpapan

Awalnya Balikpapan adalah tempat persinggahan pedagang-pedagang dari Banjar (Banjarmasin) yang akan menuju ke Kalimantan bagian timur. Pedagang asal Banjar tersebut membawa dagangan seperti beras, kain, garam, dan lainnya. Saat singgah, mereka menemukan sesuatu di sepanjang pesisir pantai Balikpapan. Ada banyak cairan hitam kecoklatan yang mengalir dari tanah di pesisir pantai Balikpapan. Cairan hitam yang mudah terbakar itu diambil oleh para pedagang untuk dijual/sebagai bahan bakar. Lama kelaman mereka tidak hanya singgah di Balikpapan, tetapi akhirnya menetap dan membuat sebuah kampung. Kampung tersebut dinamakan ‘Kampung Baru’. Letaknya di dekat Pulau Tukung.


Pulau Tukung Balikpapan

Dinamakan Kampung Baru karena di kampung ini mereka menetap dan memulai hidup baru. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang-pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Penduduk pertama Kampung Baru ini kebanyakan adalah pedagang dari Banjar dan Sulawesi. Keberadaan lantung/cairan minyak di pesisir pantai Balikpapan kemudian diketahui oleh Belanda.

Di tahun 1890 Belanda membeli daerah sekitar pesisir pantai Balikpapan dari Kesultanan Kutai. Konon kandungan minyak bumi di Balikpapan saat itu adalah yang terbesar di Asia Tenggara. Maka dilakukanlah pengeboran pertama kali oleh Belanda pada tanggal 10 Februari 1897. Awal tahun 1900 dibangunlah instalasi pengolahan kilang minyak Balikpapan oleh Belanda. Pembangunan kilang tersebut membuat Kampung Baru harus tergusur ke sebelah utara kilang. Selain membangun kilang, Belanda jg membangun fasilitas pendukung lainnya. Dibangunlah perumahan dengan gaya khas Eropa di Gn.Dubbs. Dibangun pula fasilitas seperti lapangan bola (sekarang lapangan merdeka), tempat hiburan (sekarang banua patra).


Lapangan Merdeka Balikpapan

Dibangun pula fasilitas seperti rumah sakit, sekolah. Belanda jg mendatangkan tenaga kerja untuk kilang dari berbagai daerah seperti dari jawa dan sulawesi. Inilah sebabnya kenapa penduduk Balikpapan saat ini terdiri dari berbagai macam suku. Indonesia mini.

Di tahun 1930an ada sebuah perkampungan utk pedagang-pedagang cina. Letaknya di depan Monpera sekarang.


Monpera

Diseberang perkampungan cina tersebut ada sebuah pasar. Pasar tersebut melengkapi dua pasar yang sudah ada sebelumnya. Pasar Klandasan dan pasar di kampung baru.


Pasar Klandasan

Di thn 1930an ada dua rumah sakit. Rumah sakit BPM (sekarang rumah sakit Pertamina) dan rumah sakit Juliana (skr jd SMP swasta).


Rumah Sakit Pertamina

Perkampungan ada di kampung baru dan klandasan. Sedangkan daerah gunung sari dulunya masih hutan. Daerah gunung sari dulu hanya jalan setapak. Hanya ada satu kampung kecil disana. Penduduk yang tinggal di kampung gunung sari adalah penduduk yang enggan membayar pajak kepada Belanda. Perkampungan cina yg ada di dpn Monpera td kemudian pindah ke daerah Pandan Sari.  Orang-orang Belanda hidup sangat ekslusif. Tidak mau membaur dengan pribumi. Termasuk dalam hal pendidikan. Dulu ada beberapa sekolah khusus untuk orang-orang Belanda di Balikpapan. Namun hanya ada satu sekolah untuk pribumi. Sekolah tersebut hanya tingkat dasar. Sedangkan untuk melanjutkan ke tingkat lebih tinggi harus ke Banjarmasin.

Jalanan di Balikpapan dulu masih sempit. Hanya selebar 2 hingga 3 meter. Dulu di kilang minyak Balikpapan ada transportasi kereta. Khusus untuk pekerja-pekerja kilang. Perkembangan kilang minyak Balikpapan sangat pesat. Puluhan kapal mengangkut minyak bumi ke negara-negara Eropa. Tak heran, beberapa negara mengincar kota Balikpapan dengan kekayaan minyaknya. Salah satunya : Jepang. Jepang sangat mengincar kota Balikpapan. Dikirimlah mata-mata ke Balikpapan yg menyamar sebagai pedagang. Mata-mata Jepang tersebut mendata pos-pos pertahanan Belanda. Dan juga kekuatan pasukan Belanda. Pada tanggal 18 Januari 1942 Belanda menerima ultimatum dari Jepang untuk menyerahkan kota Balikpapan. Ultimatum tersebut tidak digubris oleh pihak Belanda di Balikpapan. Mereka lebih memilih melawan daripada menyerah.

Pada tgl 22 Januari 1942, dibawah pimpinan Jendral Shizuo Sakaguchi, Jepang menyerang Balikpapan. Sesampainya di Balikpapan, Jepang terkejut. Karena kilang minyak sudah dihancurkan terlebih dahulu oleh Belanda. Jepang yg dongkol karena hanya mendapat abu dan arang, kemudian menyerang Belanda ke berbagai penjuru Balikpapan. Terjadi pertempuran sengit di Balikpapan. Dentuman peluru, aroma mesiu, dan asap hitam membumbung. Jepang yg terkenal kejam tanpa ampun membunuh setiap orang Belanda yang ditemuinya. Ada sebuah kisah memilukan saat tentara Jepang menyisir daerah Gunung Pancur. Untuk mencari jenderal Belanda.  Ada 3 petinggi Belanda dan keluarganya yg terjebak di perumahan di gunung pancur. Mereka mencoba melawan saat tentara Jepang memergoki mereka. Namun naas, akhirnya 3 keluarga tsb dibantai oleh Jepang. Itulah mengapa 3 rumah di gunung pancur yg jadi tempat pembantaian tsb sampai skr terkenal angker. Penyisiran mencari org2 Belanda oleh tentara Jepang berlanjut hingga ke sebuah markas tentara Belanda. Markas tsb terletak di daerah gunung sari. Bangunan markas tsb smpat difungsikan sbg rmh sakit.  Markas tsb juga dikenal sbg Puskib. Bangunannya skr sdh dibongkar.


Puskib

Saat tentara Jepang dtg utk mencari orang-orang Belanda, ada satu dokter pribumi disana. Dokter tsb sedang mengobati bbrp tentara Belanda yg terluka. Melihat hal tsb, tentara Jepang murka. Kemudian diculiklah dokter bedah pribumi satu-satunya tersebut. Kemudian dibunuh. Dokter bedah tsb bernama dr.Kanudjoso Djatiwibowo. Namanya skr dijadikan nama Rumah Sakit Umum.


RSU Balikpapan

Ada satu orang Belanda yg lolos dlm penyisiran oleh tentara Jepang tsb. Namanya Jan Theo Van Amstel. Jan Theo Van Amstel adalah seorang Belanda yg berbeda dari org Belanda kebanyakan. Jan Theo Van Amstel berkulit agak hitam. Persis sekali seperti pribumi. Ketika lolos dari penyergapan tentara Jepang, ia kemudian membaur dgn pribumi lainnya.

Jan Theo Van Amstel ini adalah saksi mata peristiwa pembantaian jendral-jendral Belanda di pantai banua patra. Suatu pagi di tanggal 23 Februari 1942, ia bersama org2 kampung dibawa ke pantai banua patra. Di pantai banua patra tsb mereka dipaksa melihat pembantaian 78 org Belanda. Jan Theo Van Amstel dlm kesaksian menuliskan, ia melihat jendral-jendral Belanda, pastur. Dlm keadaan terikat. Kemudian satu persatu jendral2 tsb ditembak oleh tentara Jepang. Beberapa dipenggal kepalanya. Setelah itu Jan Theo Van Amstel dikabarkan melarikan diri ke Makassar. Menumpang kapal nelayan. Masa penjajahan Jepang di Balikpapan tdk berlangsung lama. Perang Dunia ke II kemudian meletus. Pada tanggal 7 Juli 1945. Sekutu datang ke Balikpapan utk berperang melawan Jepang. Perang ini ada dlm sejarah. Sekutu yg terdiri dari tentara Australia mendarat di perairan Klandasan. Tepat di pantai Monpera skrg. Perang tsb tdk berlangsung lama. Tgl 21 Juli 1945 Jepang menyerah kalah di Balikpapan.


Pasukan tentara Australia kemudian ditugaskan utk memelihara tatanan masyarakat Balikpapan pasca perang. Ratusan tentara Australia gugur dlm pertempuran melawan Jepang di Balikpapan. Utk mengenang peristiwa tsb, tahun 1945 tentara Australia membuat tugu peringatan di dkt lapangan merdeka. Tugu tersebut kita kenal dgn Tugu Australia. Proklamasi kemerdekaan akhirnya berkumandang di Jakarta tgl 17 Agustus 1945. Namun karena minimnya sarana komunikasi, kabar proklamasi ini telat diketahui oleh masyarakat Balikpapan. Baru pada sekitar bln november 1945, kabar proklamasi kemerdekaan ini sampai di Balikpapan.  Namun, tidak serta merta hal tsb membuat Balikpapan bebas dari penjajah.  Belanda yg membonceng sekutu Australia wkt itu ingin menjajah Balikpapan kembali. Kalimantan,khususnya Balikpapan wkt itu memang dlm status quo. Artinya blm msk ke wilayah NKRI.  Berbagai pertempuran pecah di Balikpapan antara kaum pejuang pribumi dan tentara Belanda. Selain mengangkat senjata, bbrp pemuda Balikpapan mendirikan perkumpulan. Perkumpulan yg kemudian menjadi partai politik pertama di Balikpapan adalah Fonds Nasional Indonesia (FONI). Di masa awal terbentuknya organisasi ini, mereka mengadakan pasar malam utk menghimpun dana perjuangan. Pasar malam itu diselenggarakan di lapangan sepakbola pandan sari (skr lapangan FONI).

Gerakan perjuangan gerilya pejuang Balikpapan melawan Belanda trs dilakukan. Hingga pada suatu ketika. Tgl 10 Desember 1946, Belanda mengumpulkan semua pribumi di lapangan FONI. Belanda berniat menghabisi seluruh pribumi tsb. Tetapi peristiwa pembantaian itu urung terjadi. Seorang komandan yg ditugasi menjaga keamanan Balikpapan bernegosiasi dgn Belanda. Komandan itu membujuk Belanda spy tdk membantai kaum pribumi. Krn akan berdampak pada banyak hal. Terutama kilang. Berkat negosiasi dr komandan tsb, tdk terjadi pembantaian di Balikpapan. Komandan tsb bernama Wiluyo Puspoyudo. Namanya skr dijadikan nama sebuah taman di dekat rumahnya dulu.


Perlawanan thd Belanda trs dilakukan. Dgn pertempuran dan perundingan-perundingan. Pada tanggal 27 Desember 1949, Balikpapan resmi masuk ke dalam Republik Indonesia Serikat. Setahun kemudian, Presiden Soekarno datang ke Balikpapan. Dgn pidato khasnya, beliau menyemangati masy.Balikpapan. Sejak itulah kemudian masyarakat Balikpapan mulai membangun kotanya.  Pd tanggal 20 Januari 1960, Aji Raden Sayid Muhammad dilantik menjadi Walikota Balikpapan yg pertama. Dan salah satu yg menjadi ciri khas kota Balikpapan yaitu kilang minyak, trs berproduksi hingga skrg